Asyhadu anlaa ilaaha illallaah,
wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dua
kalimat di atas disebut kalimat syahadat atau biasa dikatakan sebagai kalimat
syahadatain. Sejak kecil saya sudah terbiasa mendengar dan mengucapkan kalimat
itu. Terlahir dari keluarga yang seluruhnya beragama Islam membuat saya otomatis
tercetak sebagai anak yang mengaku beragama tersebut. Saya tidak dapat
mengatakan telah memilih agama Islam sejak masa aqil baligh karena memang tidak
pernah dihadapkan pada pilihan agama – agama lain.
Iya, bisa dikatakan saya menerima
agama Islam secara serta merta, secara begitu saja. Hingga beberapa tahun
kemudian, proses – proses yang terjadi dalam hidup saya telah sedikit demi
sedikit menjelaskan, bahwa menerima begitu saja berbeda dengan menerima karena
memilih dalam keadaan sadar. Sadar artinya mengetahui betul dasar – dasar dari
sesuatu yang membuat saya memutuskan untuk memilih menerima sesuatu atau tidak
menerima sesuatu.
Kemudian dari pemahaman tersebut
muncul pertanyaan, saya ini mengimani agama Islam beserta seluruh perangkatnya
atau sekadar percaya? Karen Armstrong, seorang komentator terkemuka di dunia
tentang masalah agama mengatakan, ada perbedaan antara kepercayaan kepada seperangkat proposisi dengan keimanan yang memampukan kita menaruh keyakinan
akan kebenaran proposisi – proposisi itu.
Saya mengartikan kepercayaan
dapat dilakukan begitu saja, sedangkan keimanan merupakan kepercayaan yang
telah mengalami peningkatan karena telah menemukan kebenaran – kebenaran dari
sesuatu yang dipercayai. Kepercayaan adalah pembenaran terhadap sesuatu, keimanan
adalah mengakui kebenaran dari sesuatu. Sewaktu kecil, Ibu saya mengajarkan dan
membiasakan saya membaca do’a sebelum makan. Saat saya bertanya kenapa harus
melakukan hal itu, mamak hanya menjawab singkat bahwa do’a akan membuat makanan
yang masuk ke lambung menjadi baik dan berkah.
Saya tidak menolak jawaban itu,
meskipun juga tidak berarti saya menerimanya. Hanya pertanyaan – pertanyaan
yang terus berkelabat di pikiran, kenapa bisa begitu? Memang apa bedanya
membaca atau tidak membaca do’a? Bukannya sama saja rasa makanan itu? Tapi,
baiklah saya percaya apa yang beliau ajarkan.
Iya, saya mempercayai kebiasaan
yang dikatakan baik itu. Kepercayaan yang dilakukan begitu saja selalu berhasil
memberi ruang – ruang keraguan dan bahkan penolakan. Kebiasaan semasa kanak – kanak
yang didasari kepercayaan itu perlahan – perlahan menghilang. Logika berpikir
semakin berkembang saat remaja dan semakin sulit menerima sesuatu yang tidak
dapat dibuktikan sehingga tidak dapat diterima kebenarannya oleh logika saya.
Sampai pada suatu waktu saya
mendapatkan penjelasan dari penelitian ilmiah yang dilakukan Dr.Masaru Emoto,
Profesor Peneliti asal Negeri Sakura – Jepang itu menemukan fakta bahwa ketika
air menerima pesan atau kata – kata baik akan terbentuk kristal – kristal
heksagonal yang menawan. Sebaliknya, jika air distimulasi atau dihadapi dengan
kata – kata yang buruk, kristal itu pecah dan berbentuk tidak beraturan.
Baca juga :
Do’a adalah kata – kata baik,
pesan dengan kalimat yang baik, pengharapan tentang kebaikan. Apakah ini
pembuktian kebenaran atas jawaban Ibu saya dulu? Wah ternyata beliau visioner
sekali hehehe…
Di tanah kelahiran saya, Madura,
pengobatan alternatif melalui media air yang sudah dibacakan do’a – do’a
merupakan metode yang amat populer. Saya jadi penasaran dan berandai – andai
ingin melakukan penelitian serupa terhadap air – air yang biasanya didapat dari
kyai dan ulama itu. Banyak juga yang ditaruh di dekat makam atau tempat – tempat
khusus yang biasanya diyakini memiliki keberkahan sehingga banyak peziarah dan
berdo’a di situ.
Saya curiga air – air itu memang
akan mengalami hal serupa dengan yang telah dilakukan Dr. Masaru Emoto. Ini
telah membuat kepercayaan saya mendaki pada keimanan. Mengimani bahwa berdo’a
itu baik bagi makanan yang akan masuk ke dalam tubuh, juga mengimani bahwa air
– air yang biasa diperoleh dari orang – orang dan tempat – tempat “ sakti ” itu
memang memiliki pengaruh baik. Tapi, ternyata bukan persoalan kyai atau
tempatnya, melainkan karena do’a – do’anya. Jadi, bisa jadi saya bisa melakukan
sendiri untuk memperoleh air “ sakti ” semacam itu?!
Penelitian Prof. Dr. Masaru Emoto
itu baru satu temuan yang saya temukan, masih banyak hal lain yang baru saya
ketahui kebenarannya melalui ilmuwan – ilmuwan di dunia maupun pengalaman
pribadi. Semua pengetahuan itu mengarahkan saya pada pengakuan bahwa isi Al-Qur’an
itu benar dan teruji. Jika ada yang belum bisa diterima logika, maka bukan isi
Al-Qur’an yang salah, melainkan logika, pengetahuan, pengalaman saya yang belum
sampai padanya.
Perlahan saya mulai mengimani
bahwa Tuhan memang Maha Kuasa dan Maha Tahu, sedangkan saya dulu sering sok
tahu hanya untuk melawan dan mencari – cari kesalahan Tuhan, Astaghfirullahal’adzim.
Dasar saya ini, nyata sekali kalau manusia. Penuh keterbatasan tapi masih saja
sombong dan merasa memiliki kuasa mengetahui segala sesuatu mentang – mentang
memiliki akal pikiran.
Semua pengetahuan yang saya
temukan selama saya hidup sampai sekarang ini hanya mengantarkan saya semakin
tidak bisa menolak ajaran agama yang “ diwariskan ” oleh ibu saya.
Pada akhirnya, penjelajahan akal
pikiran mengembalikan saya pada sabda – sabda di awal masa kanak – kanak saya
dulu. Bahwa benar alam semesta ini ada penciptanya, Dia yang Maha Kuasa. Bahwa
cerita – cerita 25 nabi dan rasul itu benar. Ilmu pengetahuan, penelitian
ilmiah, sejarah, berbagai macam kajian telah perlahan – lahan mengisi otak saya
yang makin dikorek makin ketahuan bodohnya, lalu semakin mengantarkan pada
keimanan akan kalimat Asyhadu anlaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna
Muhammadan rasuulullah.
Pertanyaan baru – baru ini yang
sedang gencar berkelabat di pikiran saya adalah benarkah saya muslim dan telah
melaksanakan keislaman saya? Benarkah saya tidak musyrik? Benarkah saya tidak
kafir? Diterangkan bahwa Kafir jamaknya Kuffar, yaitu orang yang tidak percaya
kepada Allah, Rasul-rasulNya, Malaikat – malaikatNya, Kitab – kitabnya dan hari
kiamat.
Benarkah saya telah mengimani
bahwa Allah Tuhanku, tiada Tuhan selain Dia, Dia Sang Satu dan satu – satunya,
sedangkan hati saya masih seringkali galau habis – habisan karena urusan cinta
duniawi, mungkinkah hati yang hanya menyembah Allah dibenarkan bersikap seperti
itu?
Benarkah saya telah mengimani
Rasul – rasul Allah, sedangkan tingkah laku kata masih saja sering tidak sesuai
dengan tuntunan tauladan mereka?
Benarkah saya telah mengimani
Malaikat – malaikatNya? Sedangkan saya masih seringkali tidak merasa malu
melakukan hal – hal yang tidak dibenarkan agama, padahal malaikat – malaikat
selalu mendampingi.
Benarkah saya telah mengimani
Kitab – kitabNya? Sedangkan saya masih seringkali tidak bertindak seperti yang
telah saya baca dan ketahui kandungan ayat – ayatNya.
Benarkah saya telah mengimani
Hari Kiamat? Sedangkan keterbuaian saya pada kesenangan – kesenangan duniawi
telah menampakkan diri saya seolah surga dan neraka bukan sesuatu yang menarik
untuk diperjuangkan?
Entahlah, yang jelas mengetahui
diri saya begini membuat saya sungguh tidak mampu jika melihat saudara – saudara
seiman begitu mudah menghujat orang lain kafir hanya karena tidak mengenal
syahadatain atau karena hal – hal lain.
Bagaimana bisa kita sibuk
mengkafir – kafirkan orang lain, seolah kita yakin betul bahwa iman kita telah
aman dan mustaqim, telah pasti benar, dan telah tidak mungkin salah akhir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar