Rabu, 02 Agustus 2017

Saya Jangan ( - jangan ) Kafir?!


Asyhadu anlaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dua kalimat di atas disebut kalimat syahadat atau biasa dikatakan sebagai kalimat syahadatain. Sejak kecil saya sudah terbiasa mendengar dan mengucapkan kalimat itu. Terlahir dari keluarga yang seluruhnya beragama Islam membuat saya otomatis tercetak sebagai anak yang mengaku beragama tersebut. Saya tidak dapat mengatakan telah memilih agama Islam sejak masa aqil baligh karena memang tidak pernah dihadapkan pada pilihan agama – agama lain.

Iya, bisa dikatakan saya menerima agama Islam secara serta merta, secara begitu saja. Hingga beberapa tahun kemudian, proses – proses yang terjadi dalam hidup saya telah sedikit demi sedikit menjelaskan, bahwa menerima begitu saja berbeda dengan menerima karena memilih dalam keadaan sadar. Sadar artinya mengetahui betul dasar – dasar dari sesuatu yang membuat saya memutuskan untuk memilih menerima sesuatu atau tidak menerima sesuatu.

Kemudian dari pemahaman tersebut muncul pertanyaan, saya ini mengimani agama Islam beserta seluruh perangkatnya atau sekadar percaya? Karen Armstrong, seorang komentator terkemuka di dunia tentang masalah agama mengatakan, ada perbedaan antara kepercayaan kepada seperangkat proposisi dengan keimanan yang memampukan kita menaruh keyakinan akan kebenaran proposisi – proposisi itu.

Saya mengartikan kepercayaan dapat dilakukan begitu saja, sedangkan keimanan merupakan kepercayaan yang telah mengalami peningkatan karena telah menemukan kebenaran – kebenaran dari sesuatu yang dipercayai. Kepercayaan adalah pembenaran terhadap sesuatu, keimanan adalah mengakui kebenaran dari sesuatu. Sewaktu kecil, Ibu saya mengajarkan dan membiasakan saya membaca do’a sebelum makan. Saat saya bertanya kenapa harus melakukan hal itu, mamak hanya menjawab singkat bahwa do’a akan membuat makanan yang masuk ke lambung menjadi baik dan berkah.

Saya tidak menolak jawaban itu, meskipun juga tidak berarti saya menerimanya. Hanya pertanyaan – pertanyaan yang terus berkelabat di pikiran, kenapa bisa begitu? Memang apa bedanya membaca atau tidak membaca do’a? Bukannya sama saja rasa makanan itu? Tapi, baiklah saya percaya apa yang beliau ajarkan.

Iya, saya mempercayai kebiasaan yang dikatakan baik itu. Kepercayaan yang dilakukan begitu saja selalu berhasil memberi ruang – ruang keraguan dan bahkan penolakan. Kebiasaan semasa kanak – kanak yang didasari kepercayaan itu perlahan – perlahan menghilang. Logika berpikir semakin berkembang saat remaja dan semakin sulit menerima sesuatu yang tidak dapat dibuktikan sehingga tidak dapat diterima kebenarannya oleh logika saya.

Sampai pada suatu waktu saya mendapatkan penjelasan dari penelitian ilmiah yang dilakukan Dr.Masaru Emoto, Profesor Peneliti asal Negeri Sakura – Jepang itu menemukan fakta bahwa ketika air menerima pesan atau kata – kata baik akan terbentuk kristal – kristal heksagonal yang menawan. Sebaliknya, jika air distimulasi atau dihadapi dengan kata – kata yang buruk, kristal itu pecah dan berbentuk tidak beraturan.

Baca juga :

Do’a adalah kata – kata baik, pesan dengan kalimat yang baik, pengharapan tentang kebaikan. Apakah ini pembuktian kebenaran atas jawaban Ibu saya dulu? Wah ternyata beliau visioner sekali hehehe…

Di tanah kelahiran saya, Madura, pengobatan alternatif melalui media air yang sudah dibacakan do’a – do’a merupakan metode yang amat populer. Saya jadi penasaran dan berandai – andai ingin melakukan penelitian serupa terhadap air – air yang biasanya didapat dari kyai dan ulama itu. Banyak juga yang ditaruh di dekat makam atau tempat – tempat khusus yang biasanya diyakini memiliki keberkahan sehingga banyak peziarah dan berdo’a di situ.

Saya curiga air – air itu memang akan mengalami hal serupa dengan yang telah dilakukan Dr. Masaru Emoto. Ini telah membuat kepercayaan saya mendaki pada keimanan. Mengimani bahwa berdo’a itu baik bagi makanan yang akan masuk ke dalam tubuh, juga mengimani bahwa air – air yang biasa diperoleh dari orang – orang dan tempat – tempat “ sakti ” itu memang memiliki pengaruh baik. Tapi, ternyata bukan persoalan kyai atau tempatnya, melainkan karena do’a – do’anya. Jadi, bisa jadi saya bisa melakukan sendiri untuk memperoleh air “ sakti ” semacam itu?!

Penelitian Prof. Dr. Masaru Emoto itu baru satu temuan yang saya temukan, masih banyak hal lain yang baru saya ketahui kebenarannya melalui ilmuwan – ilmuwan di dunia maupun pengalaman pribadi. Semua pengetahuan itu mengarahkan saya pada pengakuan bahwa isi Al-Qur’an itu benar dan teruji. Jika ada yang belum bisa diterima logika, maka bukan isi Al-Qur’an yang salah, melainkan logika, pengetahuan, pengalaman saya yang belum sampai padanya.

Perlahan saya mulai mengimani bahwa Tuhan memang Maha Kuasa dan Maha Tahu, sedangkan saya dulu sering sok tahu hanya untuk melawan dan mencari – cari kesalahan Tuhan, Astaghfirullahal’adzim. Dasar saya ini, nyata sekali kalau manusia. Penuh keterbatasan tapi masih saja sombong dan merasa memiliki kuasa mengetahui segala sesuatu mentang – mentang memiliki akal pikiran.

Semua pengetahuan yang saya temukan selama saya hidup sampai sekarang ini hanya mengantarkan saya semakin tidak bisa menolak ajaran agama yang “ diwariskan ” oleh ibu saya.

Pada akhirnya, penjelajahan akal pikiran mengembalikan saya pada sabda – sabda di awal masa kanak – kanak saya dulu. Bahwa benar alam semesta ini ada penciptanya, Dia yang Maha Kuasa. Bahwa cerita – cerita 25 nabi dan rasul itu benar. Ilmu pengetahuan, penelitian ilmiah, sejarah, berbagai macam kajian telah perlahan – lahan mengisi otak saya yang makin dikorek makin ketahuan bodohnya, lalu semakin mengantarkan pada keimanan akan kalimat Asyhadu anlaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.

Pertanyaan baru – baru ini yang sedang gencar berkelabat di pikiran saya adalah benarkah saya muslim dan telah melaksanakan keislaman saya? Benarkah saya tidak musyrik? Benarkah saya tidak kafir? Diterangkan bahwa Kafir jamaknya Kuffar, yaitu orang yang tidak percaya kepada Allah, Rasul-rasulNya, Malaikat – malaikatNya, Kitab – kitabnya dan hari kiamat.

Benarkah saya telah mengimani bahwa Allah Tuhanku, tiada Tuhan selain Dia, Dia Sang Satu dan satu – satunya, sedangkan hati saya masih seringkali galau habis – habisan karena urusan cinta duniawi, mungkinkah hati yang hanya menyembah Allah dibenarkan bersikap seperti itu?

Benarkah saya telah mengimani Rasul – rasul Allah, sedangkan tingkah laku kata masih saja sering tidak sesuai dengan tuntunan tauladan mereka?

Benarkah saya telah mengimani Malaikat – malaikatNya? Sedangkan saya masih seringkali tidak merasa malu melakukan hal – hal yang tidak dibenarkan agama, padahal malaikat – malaikat selalu mendampingi.

Benarkah saya telah mengimani Kitab – kitabNya? Sedangkan saya masih seringkali tidak bertindak seperti yang telah saya baca dan ketahui kandungan ayat – ayatNya.

Benarkah saya telah mengimani Hari Kiamat? Sedangkan keterbuaian saya pada kesenangan – kesenangan duniawi telah menampakkan diri saya seolah surga dan neraka bukan sesuatu yang menarik untuk diperjuangkan?

Entahlah, yang jelas mengetahui diri saya begini membuat saya sungguh tidak mampu jika melihat saudara – saudara seiman begitu mudah menghujat orang lain kafir hanya karena tidak mengenal syahadatain atau karena hal – hal lain.


Bagaimana bisa kita sibuk mengkafir – kafirkan orang lain, seolah kita yakin betul bahwa iman kita telah aman dan mustaqim, telah pasti benar, dan telah tidak mungkin salah akhir.